bloggerkudus.com, Perlukah Perpanjang Domain ini?

Ya, mungkin ketika ada email masuk dari toko domain mengenai reminder perpanjangan domain, seketika langsung berfikir dan timbul pertanyaan, perlukah perpanjang domain ini lagi? Dari desember 2012 lalu, website ini sudah mengudara. Namun sejauh ini bisa dibilang hanya untuk sekedar gengsi, seolah hanya memenuhi pertanyaan, “masak sih KBC nggak ada website-nya?” Just do it! tidak lebih.

Dengan update terakhir mengenai kegiatan KBC di september akhir 2 tahun lalu ( cek di KBC KBC Ngobrol Bisnis Bersama Hariyanto Arbi Perintis Fly Power) sudah tidak ada lagi postingan terbaru. Apakah KBC mati? tidak juga. Apakah KBC sudah tidak ada lagi kegiatan setelah itu? tidak juga. Beberapa kegiatan setelah itu justru lebih banyak dan lebih padat, seperti :

1. KBC COACHING PROJECT 2017 lanjutan yang sebelumnya sudah diposting mengenai COACHING CLINIC YOUTUBE PARTNER dan COACHING CLINIC BLOGGING HIGH TRAFFIC, kita berlanjut pada COACHING CLINIC ANDROID SECRET TRICK dan COACHING CLINIC ONLINE SHOP STRATEGY

2. BLOGGER HANDSHAKE atau KOPDAR yang setiap akhir bulannya rutin diadakan

3. GOOGLE IMAGE SEARCH WEB BUILDING yang merupakan pelatihan membangun website Gambar

4. PEMILIHAN KETUA BARU dan PENGURUS BARU

5. PENGGALANGAN DANA UNTUK DONGGALA dan PALU

6. SANTUNAN ANAK YATIM setiap RAMADHAN

7. Hingga saat ini sudah berjalan mengenai 6 Divisi, dan kami sudah memiliki basecamp.

Hanya itu yang bisa saya ingat, dan semoga bisa saya ulas satu persatu mengenai Divisi apa saja yang sedang berjalan.

Yup, terlepas dari apa yang sudah kita lakukan, dan terpublikasi atau tidak, pada prinsipnya kami bukan menomorsatukan eksistensi melainkan kebermanfaatan bagi sesama. Sehingga apa yang kita lakukan tidak melulu harus diketahui dan dipublikasi.

Setelah adanya reminder perpanjangan domain ini, sepertinya ini juga reminder untuk diri sendiri untuk bisa lebih berbagi pada website ini agar bisa menjaring dan ditemukan oleh orang-orang yang membutuhkan.

Seperti yang pernah saya tulis dalam Grup bahwa Dalam membangun sebuah wadah, waktu akan membawa kita pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Wadah yang kita bangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kemalasan akan datang menyergap. Banyak dari anggota awal yang bubar jalan dan kurang sabar untuk memelihara wadah ini. Kalau kita amati, berapa puluh wadah komunitas semacam ini? dan berapa biji saja yang mampu konsisten? begitulah sebuah komunitas. Membangun dan membuatnya jadi besar adalah mudah, yang susah adalah memelihara agar tidak hilang dan lenyap dari arus waktu.

Dalam hal ini, saya termasuk yang percaya apa yang diperoleh dengan cara cepat, akan mudah lepas atau hilang, tapi apa yang diperoleh dengan susah payah, akan tahan lebih lama. Pada titik ini, sebenarnya kita akan dihadapkan pada pilihan menjadi besar dengan segera (besar secara revolusioner) atau menjadi besar sesuai dengan kecepatan alami (evolutif)? Dua-duanya mengandung resiko.

Ketika memilih menjadi cepat dengan segera, banyak hal dalam diri kita harus mengalami revolusi, termasuk orang-orang yang mendukung kita. Pertanyaannya: sanggupkah kita? sanggupkah mereka? apa dampaknya jika revolusi itu harus terjadi? Tidak semua hal bisa dijawab dengan hitung-hitungan matematis. Intuisi dan kata hati tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa mendapat jawaban yang akurat, jika kita mau jujur mendengarkan intuisi yang didukung oleh perhitungan matematis. Bahkan kamu yang terlahir dengan bakat petaruh handal sekalipun, pasti akan mengikuti intuisi dan perhitungan untuk menggandakan taruhan terbesar yang kamu mampu. Ini yang disebut dengan mengukur resiko. Kalau kamu dengan jujur dan yakin, sanggup menanggung resiko yang paling besar, maka jangan ragu memilih jalan menjadi besar secara revolusioner.

Menjadi besar secara revolusioner ini, bukan hanya persoalan resiko saja yang perlu kamu hitung, tapi juga persoalan percepatan sesudahnya. Maksudku, jika kamu yang biasanya mengerjakan pekerjaan dengan skala 1 sampai dengan 10, lalu kamu secara revolusioner meningkatkan kapasitasmu menjadi 10.000 sampai 100.000 itu artinya kamu akan sulit untuk kembali lagi pada skala 1 sampai 10. Pada level berikutnya, kamu harus bertahan pada skala 10.000 sampai 100.000 atau menaikkannya menjadi 1.000.000. Semakin besar skalanya, semakin besar pula bebannya. Jika usahamu berdasarkan passion, biasanya pilihan ini membuatmu kewalahan menjaga passion. Target kuantitas menjadi lebih penting daripada persoalan passion dalam kualitas. Sejauh mana kamu sanggup memikulnya? Ini bukan persoalan takut atau tidaknya mengambil resiko, tapi kemampuan kamu untuk menghitung resiko menjadi penting.

Bagaimana halnya dengan menjadi besar dengan kecepatan alami (evolutif)? Biasanya ini berlaku bagi orang yang mempertahankan kecepatan yang konstan karena takut passionnya tak terjaga, seperti menapaki anak tangga satu demi satu untuk sampai di atas. Sabar adalah kuncinya. Di satu sisi, akan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di tingkat berikutnya, dibandingkan dengan yang menjadi besar dengan cara cepat, tapi ketahanan kita ketika menjalaninya akan lebih terjaga. Di saat orang lain yang berlari atau loncat beberapa anak tangga sekaligus kelelahan, kita masih bisa melaju dengan energi yang tetap terjaga. Kita dapat menaikkan skala sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemampuan kita.

Jika langkah yang kita lakukan berdasarkan pada passion, pilihan ini akan menjaga passion yang kita miliki karena beban yang harus kita jalani, masih diambang batas wajar. Disebut wajar karena kita tahu batas maksimal yang bisa kita lakukan pada saat ini. Perlu diingat, batas maksimal itu bukanlah harga mati yang tidak dapat berubah. Dia bisa meningkat atau juga menurun tergantung dari upaya yang kita lakukan. Ketika kita terus belajar meningkatkan kemampuan dan memberi tantangan pada diri sendiri untuk menguji kemampuan yang kita miliki, otomatis yang disebut batas maksimal itu akan semakin jauh. Maksimal itu seperti garis cakrawala, ketika kita terus berjalan mendekatinya, dia akan terus menjauh. Untuk mencapai yang terjauh itu, perlu waktu dan kesabaran.

Apapun itu, saat ini KUDUS BLOGGER COMMUNITY masih ada dan masih terus berkarya, entah sampai kapan.

Bersama, akan selalu ada Jingga dan Senja yang terus menghangatkan Suasana.


Blogger, Writer, Designer

No comments.

Leave a Reply